A TEXT POST

'untraveling'

jarang banget traveling ke luar negeri dan nginep di hostel. kemarin baru aja traveling dan nginep di hostel utuk pertama kalinya.

dan pengalaman kemarin malah membuat gw berpikir kalau traveler itu bukan makhluk sosial. mereka cenderung memiliki dunia sendiri yang sepertinya tidak mau dibagi dengan orang lain. 

para traveler yang saya jumpai juga punya agenda masing-masing, keinginan sendiri-sendiri.

mereka memang terlihat ramah, banyak bercerita dan gampang bergaul. tapi dalam waktu yang singkat namun cukup intens, saya malah melihat bahwa mereka adalah makhuk penyendiri, yang hanya memiliki satu niat. 

mencapai apa yang mereka inginkan. 

A TEXT POST

ketertarikan pada ‘newsroom’

saya bukan jurnalis, namun ketertarikan pada dunia media (newsroom) sudah muncul ketika pertama kali membuka toko buku independen (yang akhirnya tutup setelah hidup 3 bulan). 

relasi dengan dunia media terus hadir ketika aktif hadir di acara diskusi disebuah toko buku independen di bandung dan akhirnya membuka toko buku sendiri (yang akhirnya tutup juga)

ketertarikan ini masih berlanjut dan semakin menjadi ketika akhirnya bersama teman mendirikan distributor buku. mulai belajar menulis, ngobrol sana ngobrol sini, diskusi, baca buku, artikel, dll. dan akhirnya mulai mencoba menulis dan mengirimkan artikel ke koran, menulis di blog, atau menulis di zine. 

ketertarikan ini juga sepertinya telah menjadi benih ketika sempat membuat free magazine bersama teman-teman yang hanya bertahan 3 edisi dan meninggalkan kabar yang tidak jelas. meski dulu untuk urusan ini saya mengisi posisi marketing bukan penulis. 

akhirnya sekarang bisa begitu dekat dengan dunia jurnalistik, media dan segala ruang lingkupnya, meski tetap ‘gelar’ jurnalis itu tidak ada di pundak, karena saya lebih suka menjadi blogger dari pada jurnalis. 

kini dunia media menjadi lebih menarik, pergerseran dari media cetak menuju ranah digital telah membuka berbagai diskusi (kalau buka persoanal) yang menanti untuk dipecahkan. beberapa telah membuat berbagai solusi atau cara untuk menjadi berhasil di dunia digital ini, beberapa masih mencari cara. 

saya sendiri memilih medium digital karena merasa disinilah masa depan media, meski tetap membeli majalah cetak dan tetap menyukai buku dalam format non digital. 

ini bisa jadi adalah momen paling menarik yang seru untuk dijalani. bukan tentang berhasil atau tidak, tetapi tentang mengembangkan semua potensi untuk menghantarkan berita, informasi atau cerita. 

cerita yang mudah-mudahan bisa membari manfaat bagi yang membacanya. 

tulisan ini dipicu dari artikel yang saya baca di sini hasil dari jalan-jalan ke blognya mas Budi Putra, tokoh media yang jadi panutan saya. 

saya kutip beberapa quote dari artikel yang saya baca tersebut, yang juga saya bagikan di twitter:

Apps have made people feel comfortable with making small payments online - Jim Giles, co-founder of Matter

dan

to make sure journalism fits into people’s lifestyles and that means making it available wherever they happen to be -  Lucia Adams, digital development editor at The Times 

A TEXT POST

konten dan awan kinton

ditengah perkembangan era digital yang gegap gempitaa…

ada newsweek yang akhirnya menyerah dari perjuangan edisi cetak dan beralih sepenuhnya ke versi digital. 

ada pula beritagar, layanan lokal yang menghadirkan cara baru membaca konten. 

ada pula BBC yang masuk pasar feature phone dengan menyediakan aplikasi untuk ponsel berbasis S40. 

ada pula CNN yang menghadirkan CNN Trends yang didukung oleh teknologi Zite - layanan membaca konten yang sudah dibeli CNN.

ada pula saya sendiri yang kemudian berpikir, bahwa “konten itu son goku dan teknologi itu awan kinton”.

A TEXT POST

banyak kelewat berita

kelewat banyak berita. banyak berita kelewat. berita kelewat banyak. 

A TEXT POST

hal tersulit adalah bangkit dari kesalahan

hal tersulit yang saya temui ketika berprofesi sebagai blogger adalah bangkit dari kesalahan.

typo, salah tulis, data kurang lengkap adalah beberapa diantaranya. perbaikan atas kesalahan itu juga terkadang tidak banyak membantu diri sendiri untuk bangkit dan menulis lagi.

dan yang lebih sulit adalah, tidak ada yang bisa membantu kita dalam kondisi seperti ini kecuali diri kita sendiri.

A TEXT POST

kita selalu tau…

ada sebuah momen dimana kita selalu tau apa yang memang seharusnya terjadi. meski tidak dalam rupa yang jelas, namun rasa kadang terlau bising untuk dibungkam. dalam hati kita tau apa yang harus dilakukan.   

misalnya kita mengerjakan suatu hal dan pada titik tertentu kita harus meninggalkannya dan melepaskan apa yang telah kita buat atau bangun. atau mungkin ini terjadi dalam pertemanan, dimana percakapan hangat harus disudahi, karena memang sudah waktunya berhenti. atau bisa juga misalnya tinggal di kota tertentu, dan pada suatu titik, kota terus berlalu dan kita tidak tepat lagi untuk mengalir bersama cepatnya gerak kota tersebut. 

dan rasa yang muncul itu memberi sebuah jawaban, sebuah penegasan atas langkah yang mungkin sebelumnya ragu untuk dijalankan.

karena kita selalu tau kapan kita tidak dibutuhkan lagi. ada waktunya untuk melepaskan semua…

A TEXT POST

not every weekend we should stop working

sabtu - minggu ini saya tetap mimilih untuk bekerja. entah kenapa rasanya terlalu banyak yang ingin dikerjakan dan pikiran belum tenang jika semua tidak segera dijalankan. 

saat ini saya sedang bertanggung jawab atas proyek baru di tempat kerja dan semuanya begitu menyita waktu, tapi dalam arti postif. 

sempat merasa bosan dalam rutinitas kerja akhirnya saya mendapatkan kembali semangat untuk menjalankan sesuatu. you know that feeling, ketika ada sesuatu yang ingin kamu capai dan kamu merasa semua energi, pikiran dan semua yang ada di dalam kamu merasa harus dicurahkan ke usaha itu? 

well, kurang lebih seperti itu. 

dan akhirnya, sabtu - minggu ini saya tetap bekerja, bukan mengerjakan weekend project yang bisa menjadi pilihan di saat akhir minggu, tetapi pekerjaan rutin yang biasanya dikerjakan di weekdays. 

memang waktu tidak bisa diserahkan hanya pada pekerjaan saja, berkumpul bersama keluarga, teman atau refreshing adalah kegiatan yang harus tetap dilakukan. 

tapi, untuk kali ini saya sepakat bahwa: not every weekend we should stop working.

so, lets get back to work. 

A TEXT POST

sometimes

"sometimes time doesn’t heal. no not at all."

teks di atas adalah kutipan dari lagu If I Had Eyes dari Jack Johnson dalam album Sleep Through The Static. 

keseluruhan lagu dan teks tersebut sebenarnya tentang cinta. tetapi kutipan ini saya ambil untuk menempatkannya pada titik renungan. karena terkadang kita beranggapan bahwa waktu bisa menyembuhkan semua, membuat segalanya terlewat dan berakhir biasa-biasa. 

bernarkah? atau justru kita yang harus menantang waktu itu, dan menyelesaikan semuanya. tidak lekas menyalahkan atau menjadikannya alasan, alibi yang mengada-ada. 

waktu abadi, kita tidak. 

pertanyaannya berlanjut, jika waktu tidak bisa menyembuhkan, lantas kita harus bagaimana?

lagu yang menyenangkan dan hadir dari musisi favorit, mesti bagian-bagian teks di dalamnya membuat merenung, tak seringan alunan musiknya. 

A TEXT POST

tentang pertanyaan

pertanyaan kadang tak menagih jawaban, ia hanya meminta waktu, untuk sebuah proses.”


Sumber: wikupedia.multiply.com.

A PHOTO

foto berjudul ‘gapai Jakarta’ ini diambil dari akun Instagram saya sendiri. 

tugu/patung ini adalah salah satu bagian terbaik dari kota Jakarta yang selalu membuat saya merenung.